Sajak Rendra..

23 04 2010

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup.

Bekerja membalik tanah.

Memasuki rahasia langit dan samodra.

Serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas.

Karena tugas adalah tugas.

Bukan demi sorga atau neraka.

Tapi demi kehormatan manusia.

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu.

Meski kita sudah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian.

Dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang.

Ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya

-WS Rendra-

======================================================================

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
,bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh- Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, danNikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yangtak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… .
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”.

-WS Rendra-





Just writing 2

6 01 2006
Setitik kata puitiskan jiwa
Pada makna lagu yang kau lantun
Pada bait Syair yang kau tulis
menyiram gersang nurani
dan Membasahi segenap pori
Duhai permata hati
Gerangan anggun senyum kau berikan
pada tulus jiwa raga
Pada keping sucinya hati
dan
Mengisi kekosongan sukma
duhai permata hati
lelah jiwa berangsur sirna
saat dendang nyanyi menyenandung
menggetari gendang- gendang telinga
dan merobek kegalauan rasa
duhai permata hati
Adakah
Maaf kan terberi
Saat mentari mulai berseri
menyongsong datang sang pagi.




Just writing 1

6 01 2006
Kurangkai kata ini…
Saat mentari beranjak meninggi
dan tetesan embun basahi bumi
Kutulis syair ini…
Saat bongkahan hati terasa nyeri
Atas semua yang telah terjadi
Aku tahu…
Engkau adalah anugerah untuk sekeping hati
Yang pernah tumbuh bersemi
Dan kemudian mati pada detik hari
Engkau adalah materi…
Yang senantiasa mengisi ruang kosong imaji
Akan tetapi…
Raguku terus menghantui
Saat semua yang kita lalui
Melintas pada ujung memori







Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.